Abdul Roup, SH

Advokat AFP Law Firm

“Meski hanya ada perjanjian lisan, tapi anda bisa mendapatkan hak-hak anda sesuai perjanjian yang pernah dibuat.”

 

Mas, numpang tanya sekaligus minta solusi.

Saya pernah membuat perjanjian usaha bersama dengan teman. Karena teman dekat, perjanjiannya hanya secara lisan. Termasuk tentang pembagian keuntungan dan akses terhadap produk. Waktu itu usaha baru teman saya masih baru. Tapi kesulitan untuk memasarkan produknya. Dalam perjanjian lisan, teman saya yang memproduksi, saya yang memasarkan.

Dalam perjalanan waktu usaha tersebut membesar. Konsumennya banyak. Tapi tiba-tiba teman saya membatalkan perjanjian pembagian keuntungan yang pernah disepakati ketika awal-awal bersama. Padahal banyaknya konsumen juga atas jerih payah saya yang memasarkan produk tersebut. Kalau sudah begini apa yang harus saya lakukan? Terima kasih

Ardian, Surabaya

 

Salam Mas Ardian,

Pada dasarnya syarat sah perjanjian (Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata) adalah :

1. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3. Suatu pokok persoalan tertentu;
4. Suatu sebab yang tidak terlarang.

Karena itulah, perjanjian meskipun dibuat secara lisan, tetap dinyatakan sah. Karena syarat sah perjanjian tidak mengharuskan dibuat tertulis. Perjanjian meskipun dibuat secara lisan, tetap sah dan mengikat secara hukum bagi para pihak yang membuatnya.

Bagaimana jika perjanjian lisan dibatalkan sepihak?

Anda bisa menuntut kepada teman anda untuk memenuhi/mematuhi perjanjian tersebut. Jika masih tidak ada titik temu, anda bisa mengajukan gugatan ke pengadilan untuk menuntut hak anda.

Kalau perjanjian lisan, apa bisa dibuktikan di pengadilan?

Bisa. Alat bukti meliputi
1. Bukti tulisan;
2. Keterangan saksi;
3. Persangkaan;
4. Pengakuan;
5. Sumpah.

Dari kronologi Anda yang bisa saya pahami, tidak ada bukti apa pun karena semua perjanjian dibuat secara lisan. Tapi bukan berarti lemah. Karena ada alat bukti ”persangkaan” (pasal 173 HIR). Misalnya, bisa menunjukkan bukti kepada hakim pernah ada pembagian keuntungan sekian tahun dari bisnis yang dikelola bersama. Nanti hakim yang akan menilai berdasar keyakinannya bahwa pernah ada perjanjian lisan.

Kalau alat bukti masih kurang, bisa ditambah dengan keterangan saksi. Misalnya karyawan pabrik yang mengetahui bahwa anda yang selama ini memasarkan produk di pabrik tersebut. Atau, keterangan pembeli/pelanggan yang selama ini membeli produk perusahaan tersebut dari Anda.

Ada banyak strategi lain lagi yang bisa dirumuskan. Silakan datang ke kantor kami untuk berdiskusi tentang strategi lain yang bisa ditempuh. Meski hanya ada perjanjian lisan, tapi anda bisa mendapatkan hak-hak anda sesuai perjanjian yang pernah dibuat.

Sekian, semoga bermanfaat. Terima kasih

Abdul Roup, SH
Advokat AFP Law Firm

× Klik untuk konsultasi